What can Arsenal learn from Chelsea and Bayern?
By @alcrowry
Hello there, everyone, it’s your favorite writer here!
It has been a while since I last write here due to real-life circumstances, so I’m quite happy that I can write again!
Jadi minggu lalu, kita disuguhkan oleh dua kejutan di ajang semi final Champions League, dimana Real Madrid disingkirkan oleh Bayern Muenchen (yeah!!) sementara Chelsea secara mengejutkan berhasil menyingkirkan Barcelona! Yes, that Barcelona. Surprising eh?
Dua hasil yang tidak disangka-sangka oleh banyak pihak, meskipun secara pribadi gw sudah memprediksi bahwa Bayern akan bisa melewati hadangan Madrid dan melaju ke babak final. Gw menonton full dua pertandingan tersebut, dan setelahnya gw menilai ada beberapa hal yang bisa dipetik dari perjuangan Bayern dan Chelsea, yang dapat dijadikan pelajaran tersendiri bagi Arsenal ke depannya nanti.
Yang pertama, kualitas pemain yang dipunyai oleh sebuah tim mungkin saja kalah atau tidak berimbang dengan lawannya, namun dengan taktik yang tepat, lawan sekuat apapun akan bisa dikalahkan, seperti yang ditunjukkan oleh Chelsea.
Sebelum pertandingan dimulai, gw sebenarnya tidak nge-rate peluang Chelsea untuk lolos, namun gw memang sempat bilang kalau saja Chelsea memakai taktik yang tepat, niscaya Barcelona akan tersingkir. Statement ini sendiri sempat diragukan oleh @henry4life, dimana dia bilang bahwa Di Matteo mungkin saja punya taktik yang tepat, namun mereka tidak punya kualitas untuk mengungguli Barcelona. Waktu itu, gw sempat menekankan bahwa dengan kualitas yang dibawa Barca, Chelsea mampu menang tipis, dan mungkin saja hal yang sama akan terjadi.
Turned out, I was right.
Meskipun terlihat jelas bahwa Barcelona memiliki kualitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Chelsea, namun karena mereka menerapkan taktik yang cukup tepat dan ampuh, mereka mampu menahan Barcelona, meskipun dengan 10 pemain!
Yang kedua, defending well will win you the game.
Untuk kasus yang ini, berlaku untuk Chelsea dan Bayern. Untuk Chelsea, kita semua tahu, bahwa mereka hanya butuh hasil seri untuk lolos ketika menjalani leg kedua, namun kita juga tahu bahwa Barcelona bukanlah lawan yang mudah untuk ditahan begitu saja, kemasukan satu gol saja, dan Barca akan langsung menggila.
Dan hal ini sebenarnya hampir saja berlaku untuk Chelsea, dimana mereka kebobolan dua gol dan ditambah John Terry pada saat itu harus diusir keluar lapangan karena stupidity nya. Namun, Chelsea justru tidak panik pada saat seperti ini, mereka fokus untuk bertahan di belakang, dan dengan kegigihan dan determinasi mereka, mereka berhasil. A real credit for them, karena tidak setiap tim yang kehilangan satu pemain di lapangan mampu menahan Barca di Nou Camp, seperti yang ditunjukkan oleh Arsenal musim lalu.
Hal yang sama juga berlaku untuk Bayern. Setelah memenangi leg pertama, mereka tahu bahwa mereka hanya butuh hasil imbang di leg kedua melawan Madrid. Namun, dua gol cepat dari Ronaldo pada saat itu hampir saja merubah segalanya. Setelah bermain sedikit lebih terbuka dan Robben berhasil mencetak gol pemberi harapan, Bayern sedikit merubah taktiknya dan bertahan lebih efisien dari biasanya. Mind you, Bayern’s defense is not the best in the country, I gotta admit that. Dan menahan pemain sekaliber Ronaldo, Benzema dan Ozil tentu bukan perkara mudah, ditambah selain Lahm dan Boateng, dua pemain bertahan dari Bayern adalah pemain muda (Badstuber dan Alaba). Namun sekali lagi, mereka menerapkan strategi pertahanan lebih baik, dengan memanfaatkan Luis Gustavo yang berposisi sebagai jangkar, sehingga serangan Madrid dapat dipatahkan sejak awal, dan ketika Madrid pada suatu waktu mampu menembus dan masuk ke daerah pertahanan, kuarter Lahm-Boateng-Badstuber-Alaba sudah siap untuk menghadang mereka.
Arsenal actually could learn from this. Ketika terjadi serangan, Song yang berposisi sebagai DM, dalam beberapa kesempatan, seringkali maju terlalu depan, sehingga lebih mudah dilewati oleh lawan, dan Arsenal back four sering terlihat belum siap untuk menghadapi serangan yang datang.
Ketiga, counter attack yang efektif dapat memberikan efek yang sangat mujarab.
Arsenal dikenal mempunyai pemain sayap yang cepat, sehingga secara teori, seharusnya kita akan sangat berjaya saat melakukan counter attack. Namun, yang sering terjadi, pemain Arsenal lebih banyak menahan bola terlalu lama saat melakukan counter attack yang menyebabkan pemain lawan untuk kembali dan membentuk pertahanan kembali. Hal ini membuat Arsenal banyak kehilangan peluang untuk mencetak gol, padahal counter attack merupakan salah satu cara yang cukup ampuh dalam ‘menghukum’ lawan. Salah satu buktinya bisa kita lihat waktu pertandingan melawan United di Emirates.
Again, I think, meskipun dalam kondisi yang berbeda, Arsenal bisa belajar banyak terutama dari Chelsea untuk hal ini. Dalam dua leg melawan Barcelona, tiga gol Chelsea yang tercipta semuanya berasal dari counter attack, dan dua diantaranya dilakukan begitu cepat sehingga lawan tidak bisa bereaksi. Granted, pertahanan Barcelona memang bukan yang terbaik di dunia untuk saat ini, namun once it worked, it’ll create a lasting effect. Lawan akan takut saat menyerang terlalu tinggi, dimana mereka sangat membutuhkan gol, karena ada kemungkinan mereka akan kembali di counter dengan cepat. Serangan dengan counter attack yang cepat dan efektif juga mampu membunuh mental dari lawan yang dihadapi, terutama pada saat-saat krusial.
Akan tetapi, satu hal yang perlu diperhatikan juga, bila counter attack yang dilakukan sering gagal dan tidak berujung dengan gol, ada resiko bahwa lawan cepat atau lambat akan mampu beradaptasi dan menerapkan taktik yang efektif untuk meredam hal itu. Namun, seperti yang sudah gw sebutkan diatas, once it worked, it’ll create a lasting effect.
Keempat, kesiapan penendang dan kiper pada drama adu penalti cukuplah krusial.
Untuk bagian ini, ini bisa dibilang lebih merupakan peringatan daripada saran, karena seperti yang kita tahu, Arsenal jarang sekali harus menjalani drama di babak adu penalti. Adu penalti terakhir yang gw tahu adalah ketika Arsenal berhadapan dengan AS Roma di babak 16 besar UCL tahun 2009 (CMIIW), and I’m telling you, it’s never good for your health. Kadang setiap pertandingan besar perlu ditentukan lewat adu penalti, dan tidak sembarang tim mampu melewati babak ini, hanya tim berpengalaman dan kuat mental yang mampu, and frankly, I don’t see we’re experience enough for this, dan sayangnya pengalaman dan mental tidak selalu dapat diajarkan lewat latihan.
Pada drama babak adu penalti antara Bayern dan Madrid kemarin, terlihat jelas bahwa Bayern, yang mayoritas terdiri dari pemain Jerman, mampu mengatasi seluruh tekanan dan menjadi pemenang.
To be honest, Jerman lewat timnasnya memang tidak terlalu sering mengalami drama adu penalti, dimana mereka terakhir kali menjalani adu penalti di tahun 2006 melawan Argentina, dimana pada saat itu Jens Lehmann menjadi pahlawan, namun di ajang liga lokal tim-tim Jerman terbilang cukup sering melewati drama adu penalti ini, sehingga sedikit banyak mental adu penalti ini akan menular dari pemain ke pemain. Dan juga, I read somewhere that German teams always allocated some amount of time of their training to train and deal with penalties. Sesuatu yang sepertinya cukup jarang dilakukan oleh Arsenal dan tim-tim Inggris lainnya. A preparation for this won’t do any harm, and could be quite useful when the time is come.
—————————————————————————-
Alright, it’s quite a rambling eh? I know mostly it’s just me talking and presenting my opinion without any statistics or data, and maybe some of it are just non-sense, but there you go. Menurut gw pribadi, hal-hal diatas akan cukup berguna untuk perkembangan Arsenal nantinya, and I’m not saying the current Arsenal are bad, but we could be better, and we should be.
And oh one thing, meskipun judul dari post ini adalah beberapa hal yang bisa dipelajari Arsenal dari Bayern dan Chelsea, but I don’t expect any Arsenal players to do the same stupid thing like John Terry did.
See you in the next post!
back again to my least favourite writer
kalau kata gw, jangan dulu belajar dari Bayern sama Chelsea. Belajar dulu lah dari Liverpool. Gerrard dirundung cedera lama banget, bisa jadi juara Carling dan masuk final FA.
Kondisi liverpool jg bisa dibilang kayak Arsenal, habis puasa gelar lamaaaa, dan akhirnya bisa ngasih sesuatu buat fansnya. Ini yg bikin Kenny survive, IMO
walau yah, posisinya di liga jg buruk, tapi di cup mereka masih ada semangat buat win something
gw gak ngebandingin dengan Liverpool, karena IMO, lawan yang mereka hadapi di Carling (Cardiff anyone?) dan di FA gak seberat dengan apa yang dihadapin Bayern dan juga Chelsea, khususnya di babak semifinal ini. Barcelona dan Madrid jelas beda kelasnya sama Cardiff, Stoke, bahkan sama City musim ini.
Dan gw juga ngeliat Liverpool gak harus overcoming the odds seperti yang harus dialami sama Bayern dan Chelsea di UCL musim ini.
And IMO juga, kejayaan di Liverpool di Carling maupun FA (kecuali waktu lawan City di CC) juga mostly bukan karena taktik tapi karena lebih kualitas lawan yang mereka hadapin lebih rendah (sorry to say).
IMO, di 2 pertandingan semifinal kemaren siapapun bisa jadi pemenang, dan baik Barca maupun Madrid itu overhyped, thanks to media.
Nah itu dia, coba kita liat. Arsenal di Carling OK kesingkir ama City, tapi di FA kesingkir sama Sunderland? Meh. Walau emang Liverpool dapet handicap lawan2 mereka lebih rendah kualitasnya, tapi gw lebih menyorot ke spirit mereka dalam mengakhiri trophy drought. Karena itu gw lebih pilih mencontoh ke Liverpool
gw ngeliat emang arsenal agak lemah sih klo main away. gak tau faktor psikologis atau emang taktik AW yang beda?
kaya pas di FA, Arsenal kalah sama Sunderland karena main di kandang lawan. Gw gak itung Carling, karena Arsenal nurunin youngster di kompetisi itu.
Di UCL juga Arsenal unbeaten at home. Tapi kalah beberapa kali di kandang lawan. Rekor EPL juga gak bagus, Arsenal udah kalah 7 kali di tandang.
Faktor pemain berpengalaman mungkin dibutuhin klo main di tandang. Dan gw liat, Arteta sama Rosicky udah sukses banget ngembangin Arsenal di faktor mental.
Gw masih ngerasa kita cuman unlucky aja sih with some poor managerial judgment di awal musim.
Hehe, gw gak terlalu menyinggung masalah spirit disini, tapi lebih ke arah teknis, meskipun di beberapa bagian gw memang sempet nyebutin tentang determinasi dan sebagainya, tapi apa yang gw tulis lebih ke bagian teknis dan taktisnya.
Diliat dari hal itu, Liverpool bisa dibilang gak “mengandalkan” hal itu, liat aja waktu final CC kemarin.
Di semifinal UCL kemarin memang semua tim bisa jadi pemenang, tapi let’s be honest, di atas kertas sedikit yang ngejagoin Bayern sama Chelsea, dan di atas kertas aja, sulit mengalahkan dua tim itu tanpa taktik yang tepat, therefore the point of my article, overcoming the odds with the right tactics (and luck, for Chelsea).
Mungkin nanti kalo Liverpool beneran juara FA, gw akan buat artikel yang nyinggung soal spirit mereka yang bisa ditiru (tapi kalopun itu terjadi, gw sepertinya lebih tertarik untuk berkaca dari Bilbao, lol).
daripada bilbao, I’d prefer Wigan or QPR
lol, setelah gw baca lagi artikelnya, ada satu point lagi yang mau gw tekenin, yang tadi ketinggalan.
Poin kedua sama ketiga post gw ini, menekankan ke kelemahan Arsenal yang banyak terjadi musim ini, which earlier and at some point of the season, cost us games.
Samplenya mungkin terlalu sempit karena lingkupnya cuma 2-3 match, tapi 2-3 match itu somehow sums up all the thing that we should have done, IMO.
Kalau kelemahan Arsenal yang counter attack itu, yah musuh2 Arsenal kebetulan defensenya kuat, kalau lawan Barca yg kalap kayak kemaren gw yakin mereka bisa finish it better.
Sama adu pinalti, untuk apa fokus terus ke latihan adu pinalti kalau seandainya kita bisa memenangkan pertandingan hanya dalam 90 menit? Adu pinalti selipin aja ke latihan dan pelajaran mental, soalnya gw yakin soal finishing semua pada bisa, dan goalkeeping skill udah pada dilatih buat nahan shoot jarak dekat semua, tinggal masalah mental.
Btw, gw nemu artikel menarik: Champions League Place but no minor trophy (just like Arsenal), or get minor trophy(ies) but no Champions League Place? (just like Liverpool). Dan disitu nekenin opini soal hak siar TV dan lebih berat ke lebih pilih UCL place. Mau dibahas gak kapan2?
Reblogged this on Chelsea fc.