The Arsenal's 12th Men

The twelfth men are just as important as the 11 players on the pitch.

Preview: Bayern – Arsenal (3-1 agg)

Mission impossible. No? Di kandang sendiri Arsenal kebobolan 3 gol dan hanya berhasil mencetak 1 gol. Tapi klo melihat dari perspektif yang lain, satu-satunya gol Arsenal di Emirates bisa menjadi secercah harapan untuk Arsenal. Musim lalu, Arsenal tertinggal 4-0 oleh Milan, dan hampir mencatat one of the biggest comebacks in the football history.

Selain Robin van Persie, tim Arsenal kali ini, arguably, lebih kuat dari tim Arsenal musim lalu yang mengalahkan Milan. Walaupun kurang adil membandingkan tim Bayern musim ini dengan Milan musim lalu. Tapi ada satu hal yang dimiliki Arsenal sekarang, yang tidak dimiliki Arsenal musim lalu. Decent subs.

Saat melawan Milan, skuad Arsenal adalah: Szcz, Sagna, Vermaelen, Kos, Gibbs, Song, Ox, Rosicky, Gervinho, RVP, Theo. Cadangannya? Fabs, Djourou, Jenks, Miquel, Ozyakup, PCY, Chamakh. Klo dipikir sekarang, dengan skuad seperti itu, seperti keajaiban rasanya Arsenal bisa menang 3-0 atas tim Milan yang solid. Kali ini, Monreal, Wilshere, dan Sagna adalah the only 3 pemain yang akan absen. Ditambah berita baik, Ribery kemungkinan besar akan absen.

Read more…

Review: Arsenal 2-1 Aston Villa

By @alcrowry

Hello there, we meet again!

If you’re wondering, why I’m writing two reviews in a row, well, let’s just say I have some free time now :)

——————————

For Arsenal, it has been quite disappointing for the past few days. Crashed out in the FA Cup by Blackburn and lost against Bayern in the first leg of UCL, so well morale is understandably low.

Arsene said before this match, that we’re just lacking confidence and self-belief at the moment, and I agree with that. Our squad is full of talented players. No one can deny the qualities of Jack, Arteta, Cazorla and Theo, but at the moment, people would agree that Arsenal is easy to beat, as a goal in our net would kill the whole mood for the rest of the team.

And now we have this match. Aston Villa at home, a week before, arguably, our biggest match of the season, North London Derby. So, win is a must for this match, and boy, we did, in a hard fashion.

——————————

Arsene menurunkan lineup yang sedikit membuat heran, dimana Podolski disimpan di bench dan Diaby starts ahead of Ramsey. Giroud sendiri starter sebagai target man, Koscielny dropped to the bench, dan Monreal yang tidak bisa bermain melawan Bayern karena cup-tied diturunkan di posisi bek sayap kiri.

Szczesny

Sagna      Mertesacker Vermaelen      Monreal

Arteta     Diaby

Wilshere

Theo                                        Cazorla

Giroud

Aston Villa sendiri tidak bisa diperkuat oleh Ron Vlaar dan juga Darren Bent yang kabarnya cedera, juga tidak ada Marc Albrighton. Namun Benteke, Agbonlahor dan N’Zgobia diturunkan serentak oleh Paul Lambert, so they’re going for the win. Well, so are we, eh?

————————————–

Arsenal sendiri memulai pertandingan dengan tempo yang tinggi, tanpa ampun langsung mencoba mendobrak pertahanan Villa yang diisi oleh pemain-pemain muda. Dan, upaya itu membuahkan hasil dengan cepat.

Pada menit ke-6, berawal dari pergerakan Arteta dari sisi kanan yang memberikan passing yang sebenarnya sedikit terlalu panjang untuk Diaby, namun Diaby dengan kaki panjangnya berhasil mengontrol bola dan memberikannya kepada Jack. Jack yang melihat penetrasi Cazorla dari sisi kiri memberikan bola dan Cazorla sendiri langsung menendang bola, dengan cukup pelan, ke arah gawang yang berhasil di block oleh Baker, namun bola muntahan langsung kembali ke arah Cazorla. Cazorla mengontrol bola dan tanpa membuang banyak waktu melesakkan bola ke ujung jauh dari gawang Aston Villa yang tidak dapat dihalau oleh Guzan.

1-0 to The Arsenal.

Gol tersebut adalah sesuatu yang jarang terjadi bagi Arsenal musim ini. Dalam 27 pertandingan di EPL musim ini, Arsenal baru dua kali mencetak gol dalam 10 menit babak pertama, ketika melawan Everton (gol Theo) dan pada pertandingan ini. So, it’s no surprise that I’m expecting big things, or maybe goals, from Arsenal setelah gol tersebut.

Sayangnya, setelah gol tersebut, Arsenal justru memperlambat tempo pertandingan, dan sebagai gantinya, Villa akhirnya banyak memegang bola dan melancarkan beberapa serangan yang cukup berbahaya, namun masih bisa dihalau oleh pertahanan Arsenal.

Arsenal sendiri beberapa kali mencoba meluncurkan serangan balik, tapi tidak ada satupun yang berujung oleh gol.

HT. Arsenal 1-0 Aston Villa.

—————————————

Setelah half-time sendiri, tidak ada perubahan dari kedua tim, namun Arsenal sendiri langsung menyerang Villa secara habis-habisan dari kick off babak kedua dan memegang kendali permainan.

Namun, Arsenal adalah Arsenal, dari berbagai serangan dan penguasaan bola tersebut, pemain Arsenal sendiri tidak mampu (atau mau?) to pull the trigger ketika ada peluang bersih di depan gawang. Most Arsenal fans (understandably) would be shaking their heads or shouting at the players to just hit the ball already (myself included). Diantara gelombang serangan dan peluang yang tidak dapat dikonversi menjadi gol ini, Diaby sendiri ditarik keluar dan digantikan oleh Ramsey, setelah ada indikasi bahwa dirinya mengalami cedera.

Lalu pada menit ke 68, a shock happened.

Berawal dari corner kick Arsenal oleh Cazorla, bola melewati kerumunan pemain di kotak penalti dan berhasil dihalau oleh Weimann ke arah lapangan tengah. Jenkinson berhasil memenangi duel udara melawan Agbonlahor, namun ia tidak berhasil menyundul bola ke arah yang jauh dan aman, sehingga bola dapat diambil oleh N’Zogbia yang memberikannya kepada Weimann. Disinilah titik where I really get pissed with Arsenal defense. Pada titik ini, ada 4 pemain Villa yang sedang berlari ke arah gawang Arsenal, dan ada 5 pemain Arsenal yang berada di sekitar bola, namun, anehnya, tidak ada satupun pemain yang berusaha menutupi pergerakan Weimann. Jenkinson sendiri sibuk menjaga Agbonlahor yang bergerak menjauh dari Weimann, dan Monreal teralihkan perhatiannya oleh pergerakan N’Zogbia di depannya. Dan ketika Monreal mulai bergerak untuk menutupi pergerakan Weimann, ia sudah melepaskan tendangan ke arah gawang yang tidak mampu ditepis oleh Szczesny yang berdiri (IMO) cukup jauh dari garis gawang. Szczesny could have done better, I admit, tapi seharusnya Weimann sendiri tidak dapat dibiarkan memegang bola dengan bebas pada posisi tersebut.

Anyway, it’s 1-1 now.

Setelah gol tersebut, AW menarik keluar Jenkinson dan memasukkan Podolski untuk menambah daya gedor di lini depan sekaligus memberikan opsi tambahan dalam serangan. Podolski sendiri mendapat satu peluang yang seharusnya dapat dikonversi menjadi gol persis di depan gawang Villa, namun ia terlambat bereaksi terhadap bola yang datang sehingga peluang tersebut terbuang sia-sia.

Akan tetapi, momen yang ditunggu Arsenal akhirnya datang.

Berawal dari intercept Per akan bola buangan Villa ke tengah lapangan, Arteta dan Ramsey saling bertukar passing selama beberapa saat, sebelum akhirnya Arteta memberikan bola kepada Jack. Jack dengan jeli melihat pergerakan Monreal di sisi kiri men-chip bola ke arah Monreal, dan Monreal sendiri berhasil mengukur timing jatuhnya bola dan memberikan low cross ke tengah kotak penalti, dan Cazorla yang tidak terjaga dengan tenang mencetak gol. Beautiful goal from beautiful play!

2-1 to the Arsenal.

“Oooo, Santi Cazorla!”

Gol tersebut essentially kill the game, dan Arsene sendiri memasukkan Koscielny untuk menggantikan Theo di ujung pertandingan untuk memperkuat pertandingan. Arsenal sendiri berhasil menjaga keunggulan hingga akhir pertandingan.

3 points in the bag!

———————————————–

Individual assessments:

Szczesny – 6 | Could have done better for Weimann’s goal, still a lot to learn. Sepertinya membutuhkan kompetisi untuk menjaga form dan juga konsistensi.

Jenkinson – 6.5 | Bermain jauh lebih baik ketimbang saat melawan Sunderland. Tidak mudah dilewati dan berhasil menahan pergerakan Delph dan juga Weimann. A bit distracted by Agbonlahor for Villa’s goal, but good performance nonetheless.

Mertesacker – 7 | Solid performance from the BFG. Beberapa kali melakukan intercept yang cukup penting. Tidak bisa berbuat banyak saat gol Villa terjadi meskipun sudah berusaha untuk kembali ke daerah pertahanan secepat mungkin.

Vermaelen – 7 | Also a solid performance from our captain. Nothing much to do though, namun ada beberapa kali intercept dan tackling penting di daerah pertahanan.

Monreal – 7 | Could be our second signing of the season. Bagus dalam bertahan, dan juga beberapa kali memperlihatkan kapabilitasnya dalam menyerang. Reputasinya sebagai pemain yang bisa mengirimkan umpan silang dengan baik terbukti, dan assistnya pun pretty much well deserved.

Arteta – 7 | Stabil dan cukup menguasai pergerakan di lini tengah. Sedikit terlambat mundur saat gol penyama kedudukan, tapi overall good performance.

Wilshere – 7 | Energik dan penuh visi seperti biasanya, namun nampak sedikit kelelahan. Andai skor sudah unggul jauh di babak kedua, pasti akan ditarik keluar. Delightful pass to Monreal for the second goal.

Diaby – 6.5 | Permainan passingnya makin membaik, namun terkadang masih suka menahan bola terlalu lama. Ditarik keluar sebagai pre-caution.

Cazorla – 9 | Easily MOTM. Dua gol dan serangkaian permainan passing yang bagus tops it all. Kerjasamanya dengan Monreal di sisi kiri semakin membaik.

Theo – 6.5 | Setelah beberapa pertandingan, masih menunggu form Theo yang lama. Pergerakan tanpa bolanya makin bagus, tapi umpan crossingnya perlu lebih ditingkatkan.

Giroud – 6.5 | Great in holding up the ball, tapi finishingnya terkadang masih mengecewakan. Mungkin hanya masalah kepercayaan diri.

Subs:

Ramsey – 6.5 | Kembali bermain cukup solid dan (lagi-lagi) bisa mengisi posisi bek kanan setelah Jenkinson ditarik keluar.

Podolski – 6 | Memberikan alternatif serangan bagi Arsenal, namun harus lebih aware akan posisi dan juga peluang yang datang.

Koscielny – N.A | Hanya bermain selama beberapa menit saja untuk menambah kuat pertahanan.

————————————–

Secara overall, Arsenal sedikit menemukan kepercayaan diri mereka. This match showed us, what we could do, if we’re in top form, and if the confidence is running high. Terekspos oleh serangan balik, but we know it’s typical of Arsenal. Para pemain juga harus lebih berani dalam mencari peluang untuk menendang bola.

Good win, 3 points in the bag. Modal yang sangat bagus untuk NLD minggu depan.

Yes!

Up The Arsenal!

Review: Arsenal 1-3 Bayern Munich

By: @alcrowry

Hello guys, it’s been a while.
I’m still around, in case kalian bertanya-tanya, namun beberapa kesibukan pribadi membuat waktu untuk menulis jadi semakin sedikit, dan baru sekarang ini kosong lagi :D

I’ve been wanting to write, but I want a good occasion to do so, dan kebetulan banget banyak topik dan hal menarik yang bisa dibahas dari laga 1st leg UCL lawan Bayern Munich kemarin.

I should warn you that this review will be full of rant, and of course, Arsenal biased, so bear with me ;)

—————————————-

Okay, beberapa diantara kalian pasti sudah tahu, that I’m also a Bayern supporter, in fact I consider them as my ‘second team’ (the first one would be Arsenal, mind you), but I can assure you di pertandingan kali ini, dan juga di second leg nanti, I support Arsenal all the way.

Seperti yang sudah banyak diketahui, Bayern musim ini sedang dalam keadaan on fire. Unggul 15 poin di liga dari saingan terdekatnya, Dortmund, tidak pernah kebobolan dalam 9 pertandingan sebelum melawan Arsenal dan lain-lain. Di atas kertas wajar kalo Bayern lebih diunggulin, sementara Arsenal cuma dianggap underdog. But before the match, I always maintain that anything could happen in football, dan bukan gak mungkin Arsenal bisa pull an upset against Bayern.

—————————————

Masuk ke dalam matchnya. Arsenal sendiri menurunkan lineup terbaiknya, dengan pengecualian Gibbs yang lagi cedera, dan juga Monreal yang cup-tied.

Szczesny

Sagna    Mertesacker Koscielny   Vermaelen

Arteta      Wilshere

Ramsey

Cazorla                                      Podolski

Theo

On their day, lineup kayak gitu bisa bikin lawan ketakutan, back four nya gak perlu diragukan kualitasnya, lini tengahnya sendiri penuh dengan talenta dan begitu juga dengan barisan penyerangnya.

Di lain pihak, Bayern sendiri menurunkan:

Neuer

Lahm               Dante  Van Buyten              Alaba

Martinez Schweinsteiger

Kroos

Muller                           Ribery

Mandzukic

Patut diingat juga dalam pertandingan ini, Bayern tidak bisa diperkuat oleh Badstuber (cedera), Boateng (akumulasi kartu), Robben (tapi ada di bench), dan juga top scorer musim lalu, Gomez.

Sekilas, nampaknya pertandingan akan jadi pertandingan yang menarik dan juga berimbang.

———————————-

Arsenal sendiri memulai pertandingan dengan cukup baik, dimana ada satu pergerakan Theo dari sayap kanan yang berhasil melewati Alaba, namun sepertinya Theo sudah terbiasa bermain dengan Giroud, jadi pergerakan itu diakhiri dengan sebuah low cross (or pass) yang dengan mudah dapat ditangkap oleh Neuer. Sayangnya, setelah awal yang baik, the game was all Bayern.

Bayern sendiri nampaknya sudah tahu dan memerhatikan bahwa Arsenal cukup timpang di sisi kiri, dimana posisi bek sayap diisi oleh Vermaelen. Kita sudah beberapa kali melihat di musim lalu, bahwa Vermaelen secara defensif cukup baik bila bermain di posisi tersebut, namun insting bek tengahnya seringkali mengambil alih dan dalam beberapa kesempatan he caught off the position.

Gol pertama Bayern sendiri bisa dibilang kesalahan kolektif dari keseluruhan tim. Vermaelen terlalu mundur ke dalam kotak saat Muller bergerak di sisi kiri pertahanan Arsenal, and he also missed his interception. Bola jatuh ke kaki Kroos, dimana yang cukup mengherankan, tidak ada satu pun pemain Arsenal yang mengawal, dan Kroos pun dengan bebas menendang bola (yang cukup kencang dan terarah) giving Szczesny no hope to save it.

1-0 to Bayern.

Dari gol tersebut, I think we all can say, Arsenal fell apart.

Kunci untuk mengalahkan Bayern sendiri, sebenarnya terletak pada serangan balik, dimana bila dilakukan cukup cepat setidaknya akan membuahkan satu atau dua peluang yang berarti. Sayangnya, semenjak gol Kroos tersebut, Arsenal bermain cukup lambat dan gugup, sehingga saat ada peluang untuk melakukan counter, para pemain tidak bergerak cukup cepat dan pada akhirnya Bayern pun berhasil membentuk formasi bertahan dan menutup peluang untuk counter.

Lalu terciptalah gol kedua.

Berawal dari sebuah corner kick yang mengarah ke sisi kiri gawang Arsenal, Dante yang berdiri cukup bebas dan (anehnya) hanya dikawal oleh Ramsey, berhasil menanduk bola ke arah gawang dan dapat ditepis oleh Szczesny. Namun bola masih bergerak bebas di depan gawang, dan Muller yang tidak dikawal menyambar bola dengan cepat.

2-0 to Bayern.

Dengan dua gol tersebut, Arsenal bermain semakin gugup, dan beberapa kali melakukan salah passing di area lapangan tengah. Bayern sendiri melihat kegugupan tersebut, dan dengan unggul dua gol mulai mencoba untuk melakukan possession game sambil beberapa kali melancarkan serangan balik, yang untungnya tidak berujung dengan gol.

——————————–

Now at this stage, I admit that I was completely speechless at that time. I know Bayern is good, in fact very very good, but we make it too easy for them. Nerves get in the way, and confidence is shattering.

But as an Arsenal supporter, I know that there’s a chance we might turn this around, given how we usually play as a completely different team in the second half (The Second Half Syndrome). So I still keep my faith.

——————————–

Babak kedua pun dimulai, tanpa ada pergantian dari kedua tim. Arsenal sendiri setelah half time masih bermain cukup hati-hati dan masih terlihat gugup, namun pergerakan serangan sudah lebih baik dari babak pertama. Bayern sendiri nampak membiarkan Arsenal menguasai bola, dan mengincar serangan balik to kill the game.

Podolski, yang cukup anonymous di babak pertama, karena tidak mendapat support yang cukup dari Vermaelen, dan juga karena Arsenal lebih banyak bermain di sisi kanan, mulai ‘menampakkan dirinya’. Cazorla sendiri juga mulai bergerak ke sisi kiri untuk membantu Poldi, dan meskipun belum membuahkan gol, pergerakan Arsenal dengan bola jauh lebih baik.

Usaha tersebut tidak sia-sia, karena pada akhirnya di menit 55, Arsenal berhasil mencetak gol.

I should say something first. Even though I support Bayern (but again, not in this match), I always maintain that Neuer is not the best ‘keeper in Germany (it’s only a matter of perspective). The best ‘keeper in Germany for me in Rene Adler, yang sayangnya cukup tidak beruntung karena mengalami cedera yang cukup panjang, sehingga di ‘buang’ dari Leverkusen namun sekarang ini sudah mulai menemukan performanya di Hamburg. To me, Neuer is a good ‘keeper, but when he makes mistakes, it is a fatal one. A good example adalah ketika Bayern dibantai oleh Dortmund pada saat final DFB Pokal musim lalu, dan juga pada pertandingan ini.

Berawal dari corner kick oleh Jack, bola melewati kerumunan pemain Bayern di depan gawang, dan somehow Neuer keluar dari areanya, berusaha untuk mengambil bola. Bola lewat tepat di depannya, namun Neuer yang sudah maju somehow tidak menangkap atau menghalau bola tersebut, sehingga bola sampai di depan Podolski yang dengan mudah menyundul bola masuk ke gawang yang ditinggalkan oleh Neuer. It is a good example in how fatal a miscommunication between ‘keeper and defenders can be. Now, kalau kesalahan ini dilakukan oleh Fabianski or Almunia or even Szczesny, we would call for their heads. I don’t know what Bayern fans said about this, but I would certainly mad at him and the defenders if I were them.

2-1 to Bayern.

Gol tersebut, understandably, membuat Arsenal cukup percaya diri dan mulai melancarkan serangan demi serangan. Sampai saatnya pergantian pemain.

Pada menit ke 71, Ramsey dan Podolski ditarik keluar dan digantikan oleh Rosicky beserta Giroud. Now, I can understand Ramsey substitution, dia sudah terkena kartu kuning and safe to say outplayed by both Schweinsteiger and Martinez. Pergantian Podolski yang cukup aneh. Mungkin karena alasan kondisi fisik atau semacamnya, karena memang Podolski adalah salah satu pemain yang sering diganti di babak kedua. But I think it would be better to take Theo off for Giroud, and then Poldi with Chamberlain later on.

Anyway, Giroud is now on the pitch, jadi Theo bisa bermain cukup melebar dan Arsenal bisa melakukan crossing karena akhirnya ada target man yang dituju.

Masuknya Giroud membuat permainan Arsenal jadi semakin bervariasi, dan Giroud sendiri mendapatkan satu peluang dari bola crossing (sorry I forgot who crossed the ball) yang sayangnya tepat berada di depan Neuer. Satu gol dari Arsenal tentu akan membuat leg kedua semakin menarik dan terbuka, namun sayangnya, Bayern kemudian mencetak gol ketiga.

Berawal dari pergerakan Lahm di sisi kanan pertahanan Arsenal, Vermaelen lagi-lagi bergerak terlalu mundur sehingga cukup terlambat menutup pergerakan Lahm. Mandzukic yang sebenarnya dikawal ketat oleh Sagna, somehow berhasil menyentuh bola dan mencetak gol ketiga Bayern pada pertandingan itu. A typical Bayern goal, I have to say.

3-1 to Bayern.

Gol tersebut merupakan suatu bukti bahwa Bayern sangat berbahaya dalam serangan balik yang cepat. Pertahanan Arsenal sendiri could do a lot better to prevent the goal. Vermaelen should have press Lahm earlier, Szczesny should have intercept the ball, and Sagna bisa memposisikan dirinya lebih baik saat menjaga Mandzukic.

Setelah gol ketiga tersebut, mental para pemain Arsenal terlihat jelas menurun dan pada akhirnya permainan Arsenal kembali seperti pada babak pertama, berhati-hati dan gugup. Bayern sendiri setelah gol tersebut menjaga pertahanan dengan ketat dan berusaha untuk menjaga kedudukan.

Full-time: Arsenal 1-3 Bayern Munich.

—————————————-

Well, mari kita beranjak sedikit ke analisis para pemain dan juga ratingnya:

Szczesny – 5.5 | Could have done better in the second and third goal, meskipun tidak banyak dibantu oleh back four di depannya. Performanya memang masih naik turun dalam beberapa pertandingan terakhir, still a lot to learn.

Sagna – 5.5 | Sebenarnya tidak terlalu banyak menerima tekanan, karena serangan Bayern mostly berada di sisi kiri pertahanan Arsenal. Could have done better for the third goal though.

Mertesacker – 5 | I’m still a big fan of him, tapi dalam beberapa pertandingan terakhir, termasuk pada pertandingan ini, form Per cukup menurun, mungkin bisa diakibatkan oleh faktor fatigue atau juga karena confidence yang sedang menurun.

Koscielny – 6 | Bermain cukup bagus, meskipun seharusnya either him or Per should be the one who marked Dante in the second goal.

Vermaelen – 4.5 | Dapat dibilang titik lemah Arsenal pada pertandingan ini. Bayern mengekspos habis-habisan sisi kiri pertahanan Arsenal yang dijaga olehnya, dan beberapa kali memang caught off position. Gibbs’ return for the second leg (if he’s already fit) would be a huge boost.

Arteta – 5 | Outnumbered oleh lini tengah Bayern, beberapa kali kecolongan dan misplaced his pass. Terkena kartu kuning yang sebenarnya tidak perlu.

Ramsey – 5 | Tried his best as usual, but couldn’t do much facing the likes of Kroos, Schweinsteiger, dan Martinez. Terkena kartu kuning yang tidak perlu dan pada akhirnya diganti oleh Rosicky di babak kedua.

Wilshere – 6.5 | A bit anonymous in the first half, namun banyak menggerakkan permainan di babak kedua. Terlihat tidak gugup ketika berhadapan dengan Schweinsteiger maupun Martinez, dan beberapa kali melakukan run yang berbahaya meskipun tidak berujung dengan gol. MOTM for Arsenal.

Cazorla – 6 | Dijaga dengan ketat oleh Schweinsteiger dan juga Alaba. Tidak banyak memiliki peluang meskipun beberapa kali passing gamenya dengan Wilshere menarik untuk dilihat.

Podolski – 6 | Anonymous di babak pertama karena tidak ada support dari Vermaelen dan serangan Arsenal yang kebanyakan berada di sisi kanan. Mencetak satu gol yang cukup krusial dan starting to get lively sampai dia ditarik keluar.

Theo – 5.5 | Couldn’t get past of Alaba, dan meskipun role nya adalah striker di babak pertama, lebih banyak drifting keluar ke sisi kanan. Lebih baik ketika Giroud masuk, but overall, not his day.

Subs:

Rosicky – 6 | Menampilkan cameo yang cukup menarik, a glimpse of what he could do.

Giroud – 6 | Mendapatkan satu peluang bagus yang sayangnya dapat dihalau oleh Neuer. Memberikan alternatif serangan bagi Arsenal, namun tidak berujung dengan gol.

————————————-

Now about the tie. Three weeks before the second leg. Dapatkah Arsenal memutar balikkan keadaan?

I’d say yes. Gol Podolski sedikit banyak memberikan harapan untuk Arsenal, meskipun memang dengan 3 away goals, situasinya akan lebih sulit. Arsenal harus mencetak 3 gol tanpa balas atau lebih untuk lolos ke babak berikutnya. Tidak ada yang mustahil dalam sepakbola.  We could do it against Inter few years ago, and Milan last season. Bayern sendiri nampaknya akan bermain menyerang dan tidak sekedar bertahan di leg kedua nanti, jadi pertandingan bisa dibilang akan tetap terbuka.Jika Gibbs sudah bisa bermain di leg kedua nanti, I’d say peluang Arsenal untuk lolos akan meningkat, karena Bayern tidak akan bisa leluasa untuk menyerang dari sisi kiri pertahanan Arsenal seperti di pertandingan in, namun jika Gibbs belum pulih, I would hope Vermaelen to give his everything for the match.

One thing though, whatever happened in the second leg, if we’re eventually crashed out at the end, I want us to go out with dignity, like with Milan last year. I dont’ want to see dan tidak ada yang lebih sedih dari melihat Jack dalam kondisi seperti ini:

Don’t cry, Jack!

Anyway, that’s about it for now.

It’s a long review, and well, in some parts, is full of rant.

See you again, and remember, KEEP THE FAITH.

Review: Arsenal 1 – 0 Stoke

By: Henry4life (@andikadwipayana).

Musim lalu, Arsenal dijuluki sebagain “One man team” oleh kebanyakan fans sepakbola yang dikarenakan kontribusi Robin van Persie yang sangat signifikan. Julukan yang bisa diperdebatkan. Tapi tidak untuk taun ini. Arsenal menjadi salah satu tim yang sangat kolektif musim ini. Tidak ada satu nama yang menonjol, and yet, every little pieces is just as important as any other players on the pitch.

Harus diakui, musim ini ada beberapa pemain yang penampilannya masih di bawah standard. Seperti Santos atau Arshavin, yang sayangnya membuat permainan tim secara keseluruhan menjadi menurun.

Klo mau diambil contoh, banyak yang memperdebatkan siapa yang pantas menjadi MOTM di pertandingan melawan Stoke weekend kemarin. Beberapa akan menjawab Walcott karena penampilan overallnya, dan juga mencetak “indirect assist” untuk free kick Poldi. Ada juga yang mungkin akan bilang Wilshere karena spirit dan tekniknya. Poldi karena gol tunggalnya dan berhasil merebut title MOTM dari Arsenal.com. Whoscored.com memilih Diaby berdasarkan statistiknya.

Read more…

Review: Arsenal 2 – 2 Liverpool

By: Henry4life (@andikadwipayana).

Pertandingan yang sangat menarik dengan kedua tim bermain terbuka. Kedua tim sama-sama punya peluang untuk menang. Arsenal bermain lebih solid going forward, tapi lini pertahanan Arsenal bermain mengecewakan.

Pool mencetak gol as early as the 5th minutes, yang berbau unlucky untuk Arsenal. Berawal dari Sagna yang terpeleset, Johnson salah memberi umpan, Vermaelen gagal mengamankan bola, Szczesny berhasil menepis tendangan Sturridge, bola mengarah ke arah Suarez yang berdiri bebas, goal. Sagna terpeleset was an unlucky mistake. Vermaelen harusnya bisa membuang bola dari kotak 16. He had time and was without pressure. Mertesacker dan Sagna juga sedikit bersalah karena keduanya gak ada yang menjaga Suarez.

Sepanjang babak pertama, Pool played a better football. Pergerakan pemain dan bola Liverpool was excellent. Arsenal mencoba untuk bermain pressing tapi masih kurang kompak. Sturridge punya peluang emas untuk mencetak gol hasil umpan terobosan Suarez. Vermaelen failed to keep up with Sturridge’s run, beruntung tendangan Sturridge masih melenceng.

Read more…

Post Navigation